Penulis: Muhammad Yahya
Di desa bolaromang kecamatan tombolo pao kabupaten gowa. Pemandangan seorang pemuda yang berdiri tegak di balik podium kayu, menyampaikan pesan-pesan suci di hadapan jamaah, adalah potret klasik yang selalu menghangatkan suasana menjelang atau selama bulan suci Ramadhan. Namun, di balik rutinitas ibadah tahunan ini, tersimpan satu pertanyaan eksistensial bagi kita semua: Sudahkah kita benar-benar bersyukur masih diberi napas untuk bertemu Ramadhan tahun ini?
Ramadhan bukan sekadar perpindahan jadwal makan atau ritual menahan lapar. Bagi banyak orang yang telah mendahului kita tahun lalu, Ramadhan tahun ini adalah sebuah kerinduan yang tak sempat terwujud. Maka, kehadiran kita di masjid, mendengarkan ceramah, dan bersiap menyambut malam-malam penuh ampunan adalah sebuah kemewahan spiritual yang seringkali kita anggap sebagai hal yang “biasa saja”.
Gema Ar-Rahman di Tengah Kesibukan
Dalam keheningan malam dan gema tadarus, ada satu kalimat yang terus menghujam kesadaran kita. Sebuah retorika ilahi yang diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahman:
“Fabiayyi ala-i Rabbikuma tukadzdziban”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Pengulangan ini bukanlah tanpa alasan. Secara jurnalistik dan psikologis, pengulangan berfungsi sebagai penekanan (emphasis). Allah Swt. seolah ingin mengetuk pintu hati kita yang sering kali bebal dan tertutup oleh kabut kesibukan duniawi. Kita sering mengeluh tentang harga pangan yang naik atau cuaca yang panas saat berpuasa, namun kita lupa betapa mahalnya nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan secara cuma-cuma.
Syukur: Lebih dari Sekadar Kata
Bertemu kembali dengan bulan puasa adalah bukti nyata kasih sayang Sang Pencipta. Jika kita masih bisa melihat wajah keluarga di meja sahur, mendengar suara azan dengan telinga yang sehat, dan berdiri melakukan salat Tarawih, maka sejatinya kita sedang berenang dalam lautan nikmat.
Mendustakan nikmat tidak selalu berarti mengingkari keberadaan Tuhan. Dalam konteks sosial, mendustakan nikmat bisa berarti bersikap apatis terhadap sesama, membuang-buang makanan saat berbuka, atau menjalani Ramadhan hanya sebagai seremoni tanpa transformasi diri.
Leave a Reply