Laut Menggugat Selayar: Kisah Pesisir yang Tergerus Waktu

Penulis: Muhammad Yahya

Selayar, NAYARA.News – abrasi pantai di Kepulauan Selayar, kecamatan pasilambena ini bukan hanya menampilkan kerusakan alam, tetapi juga memperlihatkan potret nyata lemahnya pengelolaan wilayah pesisir. Tumpukan karung sebagai penahan ombak, bangunan yang nyaris tersentuh air laut, serta pohon kelapa yang miring adalah tanda bahwa abrasi telah berlangsung lama, namun belum ditangani secara serius dan berkelanjutan.

Sebagai daerah kepulauan, Selayar seharusnya memiliki perhatian khusus terhadap kondisi pesisirnya. Laut bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang hidup, sumber ekonomi, dan identitas masyarakat. Ketika abrasi dibiarkan terus menggerus daratan, yang hilang bukan hanya tanah, tetapi juga rasa aman dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir.

Upaya penanganan abrasi yang terlihat pada gambar cenderung bersifat darurat dan sementara. Penggunaan karung semen atau pasir mungkin dapat menahan gelombang dalam jangka pendek, namun jelas tidak cukup menghadapi tekanan laut yang semakin kuat akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Tanpa perencanaan yang matang, solusi semacam ini hanya akan menjadi simbol kehadiran negara yang setengah-setengah.

Agar kiranya pemerintah kabupaten kepulauan selayar memperhatikan dan melihat apa yang menjadi permasalahan didaerah-daerah pelosok (kecematan pasilambena). Ujar, salah satu warga setempat

Abrasi pantai juga mencerminkan persoalan keadilan lingkungan. Masyarakat pesisir sering kali menjadi kelompok paling rentan, namun paling sedikit dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Ketika daratan mereka terkikis, pilihan yang tersisa hanyalah bertahan dengan risiko atau pindah tanpa kepastian. Situasi ini seharusnya mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius menyusun kebijakan perlindungan pesisir yang berpihak pada masyarakat.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari masyarakat sipil, kondisi ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Abrasi pantai Selayar bukan sekadar persoalan alam, tetapi juga persoalan kebijakan, kesadaran, dan keberpihakan. Rehabilitasi mangrove, pembangunan pemecah gelombang yang ramah lingkungan, serta edukasi dan pelibatan masyarakat harus menjadi langkah nyata, bukan sekadar wacana.

Jika abrasi terus dibiarkan, maka Selayar perlahan akan kehilangan daratannya sedikit demi sedikit.

Leave a Reply