Hilangnya Lembaga Pemilihan Mahasiswa FTK UIN Alauddin Makassar dan Kekhawatiran Akan Pudarnya Tradisi Demokrasi Kampus

GOWA, NAYARA.News — Belakangan ini muncul kabar mengenai hilangnya atau tidak berfungsinya lembaga pemilihan mahasiswa di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar. Isu ini menimbulkan berbagai pertanyaan dari kalangan mahasiswa, terutama terkait keberlanjutan proses demokrasi internal kampus yang selama ini menjadi ruang penting bagi pembentukan karakter kepemimpinan.

Sejumlah mahasiswa mengaku resah dengan kondisi tersebut. Ketiadaan lembaga pemilihan dianggap berdampak langsung pada regenerasi kepemimpinan organisasi mahasiswa dan dapat mengganggu iklim partisipasi politik sehat di lingkungan fakultas.
“Pemilihan mahasiswa adalah ruang belajar. Kalau lembaganya hilang atau tidak berjalan, kita kehilangan sarana demokrasi itu,” ujar salah satu mahasiswa FTK yang enggan disebutkan namanya.

Kabar ini memunculkan dua sisi opini. Di satu sisi, sebagian mahasiswa menganggap lembaga pemilihan perlu dievaluasi dan ditata ulang karena selama ini dianggap kurang efektif atau tidak transparan. Namun di sisi lain, tidak hadirnya lembaga tersebut justru menciptakan kekosongan mekanisme resmi yang dapat menghambat proses pemilihan dan memperlebar jurang antara mahasiswa dan birokrasi kampus.

Para pemerhati organisasi kemahasiswaan menilai bahwa lembaga pemilihan bukan hanya formalitas, tetapi instrumen penting bagi pembelajaran demokrasi tingkat dasar. Tanpa adanya lembaga tersebut, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk memahami proses pencalonan, kompetisi ide, hingga pengawasan publik yang seharusnya menjadi bagian dari ekosistem akademik.

Pihak fakultas sendiri hingga kini masih diharapkan memberikan klarifikasi dan menjelaskan langkah yang akan ditempuh untuk memastikan kesinambungan proses pemilihan mahasiswa. Banyak yang menilai bahwa keterbukaan informasi menjadi kunci untuk meredam spekulasi dan menjaga kepercayaan publik mahasiswa.

Pada akhirnya, hilangnya lembaga pemilihan mahasiswa — apa pun penyebab dan konteksnya — menjadi pengingat bahwa demokrasi kampus adalah ruang yang harus dijaga bersama. Tanpa komitmen kolektif dari mahasiswa maupun pihak birokrasi, kekosongan seperti ini dapat menjadi preseden buruk bagi masa depan organisasi kemahasiswaan di FTK UIN Alauddin Makassar.

Leave a Reply