JAKARTA, NAYARA.News – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menargetkan pembangunan Sekolah Garuda rampung dan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027. Saat ini, proses seleksi lokasi terus dilakukan, dengan empat provinsi menjadi prioritas utama pembangunan tahap pertama.
Wakil Menteri Dikti Saintek, Stella Christie, dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu (13/9), menyebutkan bahwa Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara menjadi daerah prioritas yang ditargetkan tuntas pada 2026.
“Pembangunan di lokasi lain akan menyusul dalam tahap kedua dengan target penyelesaian pada 2027,” ujar Stella melalui Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO).
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan dalam Sidang Tahunan MPR/DPR pada 15 Agustus 2025 bahwa pembangunan 20 Sekolah Unggulan Garuda Baru dan 80 Sekolah Unggulan Garuda Transformasi akan segera dimulai sebagai bagian dari program strategis nasional.
Pendirian Sekolah Garuda ini bertujuan mencetak generasi unggul di bidang sains dan teknologi serta mempercepat pemerataan pendidikan di berbagai daerah.
Stella mengungkapkan, sejumlah wilayah masih dalam tahap peninjauan, termasuk Kabupaten Mempawah (Kalimantan Barat) dan Kabupaten Katingan (Kalimantan Tengah). Kalimantan Tengah disebut masuk lima besar calon lokasi, dan keputusan akhir akan dibuat berdasarkan hasil kajian lapangan.
“Kita akan segera menyiapkan laporan sebagai dasar rasionalisasi lokasi. Jika disetujui Menteri dan Presiden, Kalimantan Tengah bisa menjadi salah satu pilihan,” kata Stella.
Kemendikti Saintek menekankan bahwa seleksi lokasi dilakukan secara transparan, dengan mempertimbangkan usulan pemerintah daerah, kesiapan infrastruktur, potensi sumber daya, dan komitmen daerah terhadap visi pendidikan Presiden Prabowo.
Stella menambahkan, pengambilan keputusan lokasi berlangsung cepat karena data pendukung sudah tersedia. “Keputusan bisa diambil paling lambat dalam satu minggu setelah peninjauan,” ujarnya.
Apabila Kalimantan Tengah terpilih, maka pembangunan akan dilakukan pada tahap kedua dan ditargetkan selesai pada Juni 2027, dengan sekolah mulai beroperasi pada tahun ajaran 2027/2028.
Sekolah Garuda dirancang di atas lahan seluas 20 hektare, dengan dua hektare untuk bangunan utama dan sisanya dimanfaatkan sebagai kawasan hijau serta area pengembangan masyarakat.
“Konsepnya terintegrasi. Kami juga ingin melibatkan masyarakat, misalnya melalui pemanfaatan lahan untuk perkebunan,” tutur Stella.
Sebagai contoh, di Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), pembangunan ditargetkan rampung pada pertengahan 2026. Lahan di sekitar sekolah akan dimanfaatkan sebagai pusat riset kakao yang sebelumnya tidak aktif.
Di lokasi lain seperti Katingan, Kalimantan Tengah, potensi perkebunan durian akan dikaji lebih lanjut bersama pakar, termasuk dari Universitas Palangkaraya.
Stella berharap keberadaan Sekolah Garuda tak hanya mempercepat kemajuan sains dan teknologi di Indonesia, tetapi juga turut menggerakkan potensi ekonomi, pertanian, dan pariwisata daerah.
Leave a Reply